Niatnya Cuma Satu Episode... Weekend akhirnya tiba. Setelah lima hari dikejar deadline dan rapat yang seakan tidak ada habisnya, saya merasa berhak mendapatkan waktu untuk diri sendiri. Dan bagi saya, me time terbaik cuma ada satu: maraton drama Korea yang episode barunya sudah menumpuk sejak dua minggu lalu. Sore itu saya menyiapkan "perlengkapan tempur" ala penonton drama sejati—segelas kopi hangat, sebungkus camilan, dan selimut favorit. Saya duduk di sofa dengan niat yang sangat sederhana: nonton satu episode saja, habis itu tidur cepat biar besok segar. Tapi siapa yang bisa menahan diri kalau ceritanya sedang seru-serunya? Baru habis satu episode, saya langsung klik tombol "next episode" tanpa pikir panjang. Rasa penasaran soal kelanjutan kisah sang tokoh utama benar-benar tidak bisa dibendung. Satu episode jadi dua, dua jadi lima, dan tanpa sadar saya sudah menatap layar sejak sore tanpa jeda berarti. Saat saya iseng melirik jam, ternyata sudah menunjukkan p...
Saya masih ingat betul pagi itu. Embun dingin menyapa hangatnya kopi tubruk di tangan saya, sementara Gunung Prau perlahan menampakkan siluetnya. Sejak awal perjalanan, semangat menulis dan memotret tak pernah surut—saya yakin cerita baru selalu menanti di setiap lekuk kabut. Namun, tiba-tiba, layar laptop saya kabur. Bukan karena sinyal buruk atau baterai menipis, tapi karena mata kering saya menjerit. Rasa sepet datang lebih dulu. Seperti ada jutaan butir pasir menempel di kelopak. Diikuti perih , seakan setiap kedipan menyayat. Dan yang paling menyesakkan: lelah , yang bukan sekadar capek badan, tapi terasa mencengkram mental. Saya menatap pemandangan indah, tapi mata saya menolak diajak kompromi. Di sinilah saya belajar satu hal: mata kering jangan sepelein . Saya pernah membaca bahwa mata kering muncul karena terlalu lama menatap layar, cuaca dingin di ketinggian, dan kurangnya jeda istirahat. Tapi rasanya berbeda ketika gejala itu datang langsung di tenggorokan—saya hampir mele...